Narasumber dan Topik
Narasumber: Angga Risnando, S.T., M.B.A., M.Eng. (AVP Corporate Parenting & Strategic Partnership)
Topik: New Satellite Technology Disruption
Mata Kuliah: Advanced Satellite Systems & Satellite Business and Regulation
Tanggal: Sabtu, 1 November 2025
Waktu: 11.00–13.00 WIB
Tempat: Hybrid:
On-site: RO3.01.11, Gedung G Pascasarjana (untuk mahasiswa mata kuliah Advanced Satellite Systems & Satellite Business and Regulation)
Online: zoom meeting (open for public participants)
Dosen Pendamping: Dr. Meditomo Sutyarjoko, M.Sc. (Dosen S2 TE)
Intisari Kuliah Tamu
Pendahuluan: Ramalan dari Masa Lalu yang Menjadi Kenyataan
Pada tahun 1964, jauh sebelum internet menjadi bagian dari hidup kita, seorang visioner bernama Arthur C. Clarke meramalkan masa depan yang luar biasa. Dalam sebuah wawancara dengan BBC, ia membayangkan sebuah dunia di mana kita bisa bekerja dari mana saja—baik itu Bali atau Tahiti—dan bahkan seorang ahli bedah di Edinburgh bisa mengoperasi pasien di Selandia Baru, semua berkat satelit komunikasi. Namun, seiring ledakan fiber optik dan jaringan seluler, ramalan Clarke seolah ditakdirkan menjadi catatan kaki dalam sejarah teknologi—sebuah mimpi yang hampir mati. Kini, setelah puluhan tahun meredup, teknologi satelit mengalami kebangkitan yang spektakuler. Revolusi ini tidak hanya akan mewujudkan visi Clarke, tetapi juga melampauinya. Berikut adalah lima fakta kunci di balik kebangkitan teknologi satelit yang sedang mengubah dunia kita sekali lagi.
1. Sang Bintang yang Kembali Bersinar: Kisah Kebangkitan Satelit
Popularitas teknologi satelit telah melewati siklus naik-turun yang dramatis. Pada era 1960-an hingga 1980-an, satelit adalah primadona konektivitas global. Ia menjadi berita utama dan simbol kemajuan teknologi, bahkan menjadi “pahlawan” yang memungkinkan jutaan orang menonton siaran langsung sepak bola dari belahan dunia lain.
Namun, memasuki era 1990-an hingga 2010-an, popularitasnya menurun drastis. Jaringan fiber optik menawarkan “pipa” data raksasa yang tak bisa ditandingi satelit geostasioner kala itu, sementara menara seluler menjamur, memberikan konektivitas yang lebih murah dan praktis bagi miliaran orang di darat. Satelit pun dianggap sebagai solusi konektivitas yang ketinggalan zaman dan mahal.
Kini, kita menyaksikan sebuah kebangkitan kembali yang luar biasa. Dipicu oleh inovasi disruptif seperti konstelasi satelit Starlink, satelit kembali menjadi pusat perhatian, sementara teknologi seluler mulai memasuki fase saturasi. Ini adalah pengingat kuat bahwa dalam teknologi, “usang” seringkali hanyalah “menunggu momen yang tepat” untuk kembali merevolusi dunia.
2. Kunci Ekonomi Luar Angkasa: Revolusi Roket Daur Ulang
Salah satu pendorong utama di balik revolusi satelit saat ini bukanlah inovasi pada satelit itu sendiri, melainkan pada cara kita meluncurkannya. Kuncinya adalah reusable launch vehicles atau roket yang dapat digunakan kembali, sebuah teknologi yang dipelopori oleh SpaceX.
Model lama mengharuskan roket senilai triliunan rupiah “dibakar” dan hilang begitu saja setelah satu kali peluncuran. Inovasi roket daur ulang mengubah total kalkulasi ekonomi ini. Dengan roket yang bisa mendarat kembali dan digunakan untuk peluncuran berikutnya, biaya peluncuran berhasil ditekan secara drastis, diperkirakan hanya mencapai 30-40% dari biaya semula.
Penurunan biaya ini telah meruntuhkan entry barrier (hambatan masuk) ke industri luar angkasa. Tak hanya itu, model peluncuran ini juga memungkinkan konsep “tumpangan” atau rideshare, di mana satu roket bisa membawa banyak satelit kecil milik berbagai perusahaan sekaligus. Kini, lebih banyak pihak dapat berinvestasi dan meluncurkan konstelasi satelit mega mereka sendiri. Pada akhirnya, revolusi satelit modern tidak dimulai di orbit, melainkan di landasan peluncuran. Inovasi fundamental di bidang logistik antariksa inilah yang memungkinkan seluruh visi konektivitas masa depan terwujud.
3. Lebih dari Sekadar Sinyal: Satelit Sebagai “Indera” Canggih di Langit
Ketika kita berbicara tentang satelit, internet dan siaran TV sering kali menjadi hal pertama yang terlintas. Namun, aplikasinya jauh lebih luas dan mungkin lebih mengejutkan dari yang kita duga, terutama dalam bidang Earth Observation (observasi bumi) dan remote sensing (penginderaan jarak jauh).
Berikut adalah beberapa contoh nyata bagaimana data citra satelit digunakan saat ini:
- Industri: Untuk perusahaan tambang serta minyak dan gas, ini berarti memetakan potensi area eksplorasi baru dalam hitungan hari—sebuah tugas yang jika menggunakan drone akan memakan waktu berbulan-bulan dengan cakupan yang jauh lebih terbatas.
- Pemerintahan: Pemerintah daerah memanfaatkannya untuk berbagai keperluan, mulai dari memetakan rumah tidak layak huni hingga memantau pembangunan infrastruktur secara presisi.
- Pajak dan Perizinan: Salah satu aplikasi yang paling menarik adalah bagaimana dinas pendapatan daerah dapat menggunakan citra satelit untuk mendeteksi bangunan baru. Mereka kemudian dapat memeriksa database untuk memastikan apakah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) properti tersebut sudah dibayarkan.
Data satelit tidak lagi hanya tentang peta; ia telah menjadi instrumen akuntabilitas, memungkinkan tata kelola yang lebih adil dan transparan dari langit.
4. Era Baru “Direct-to-Device”: Ponsel Anda Akan Terhubung Langsung ke Langit
Bayangkan ponsel yang ada di saku Anda saat ini—tanpa modifikasi apa pun—bisa terhubung langsung ke satelit di luar angkasa. Inilah janji dari teknologi direct-to-device (D2D), sebuah lompatan besar dari telepon satelit tradisional yang memerlukan perangkat besar dan mahal.
Saat ini, kasus penggunaannya mungkin masih terbatas pada layanan darurat, seperti fitur SOS via satelit yang diimplementasikan Apple bersama Globalstar pada iPhone 14, serta layanan SMS dan telepon dasar.
Namun, ini hanyalah permulaan. Visi masa depannya adalah sebuah keniscayaan di mana layanan yang lebih kompleks seperti video call, download, dan streaming dapat dilakukan langsung dari satelit ke ponsel Anda, tanpa perlu terhubung ke menara BTS. Dampaknya akan sangat masif: potensi untuk menghilangkan blank spot secara total di seluruh penjuru bumi, memastikan setiap orang dengan ponsel biasa dapat selalu terhubung.
5. Konvergensi Total: Saat Jaringan Darat, Udara, dan Antariksa Menyatu
Visi jangka panjang dari revolusi ini adalah konvergensi total. Di masa depan, jaringan satelit tidak akan lagi berdiri sendiri, melainkan akan terintegrasi penuh dengan jaringan di darat (terestrial) dan di udara dalam sebuah konsep yang disebut Non-Terrestrial Network (NTN).
Visi ini menyatukan tiga lapisan konektivitas menjadi satu ekosistem yang utuh: jaringan antariksa yang diisi oleh konstelasi satelit, jaringan udara yang ditempati platform seperti HAPS (High-Altitude Platform Stations), dan jaringan terestrial yang terdiri dari menara 5G/6G dan fiber optik yang sudah kita kenal. Konvergensi ini menciptakan ketahanan jaringan yang luar biasa. Saat bencana alam melumpuhkan infrastruktur darat, platform di udara seperti HAPS dapat diterbangkan untuk menyediakan konektivitas darurat, yang kemudian terhubung ke jaringan satelit global, memastikan komunikasi tetap berjalan bagi tim penyelamat.
Tujuan akhirnya adalah menciptakan sebuah jaringan tunggal yang mulus dan dapat diakses di mana saja, membuat batas antara jaringan darat dan luar angkasa tidak relevan lagi bagi pengguna. Seperti yang ditekankan dalam salah satu visi industri:
“…vision yang kita bersama untuk teknologi telekomunikasi baik itu infrastruktur di darat maupun udara maupun luar angkasa itu bisa seamless… untuk terestrialnya, aerial, dan… satellite network everywhere di mana saja.”
Konvergensi ini adalah tujuan akhir untuk memberikan konektivitas super andal (reliable) dan tanpa celah yang sangat penting untuk mendukung berbagai kebutuhan masa depan, mulai dari Internet of Things (IoT) hingga kendaraan otonom.
Kesimpulan: Siapkah Kita untuk Dunia yang Selalu Terhubung?
Kelima fakta di atas menunjukkan bahwa kita tidak hanya menyaksikan, tetapi juga berada di tengah-tengah revolusi satelit kedua yang dampaknya akan sangat masif dan transformatif. Visi yang pernah dilukiskan oleh Arthur C. Clarke setengah abad yang lalu kini bukan lagi fiksi ilmiah, melainkan telah menjadi cetak biru untuk masa depan kita yang akan segera tiba. Dengan konektivitas yang akan tersedia di setiap sudut bumi, pertanyaannya kini bukan lagi “apakah mungkin?”, melainkan “bagaimana cara kita akan bekerja, hidup, dan berinteraksi akan berubah selamanya?”
Distinguished Scholars Program (DISCHO) merupakan kegiatan pengayaan wawasan bagi mahasiswa yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Teknik Elektro Telkom University. Program ini berbentuk sesi kuliah tamu, seminar, visiting professor, hingga visiting researcher yang bertujuan memperluas wawasan akademik dan memperkuat kesadaran dosen akan tanggung jawab pengembangan penelitian untuk mendukung kemajuan bangsa dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penyelenggaraan kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen S2 Teknik Elektro yang telah menjalankan pendidikan magister sejak tahun 2003 untuk terus menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan dinamika industri dan kebijakan nasional.
Apabila terdapat pertanyaan lebih lanjut mengenai kegiatan ini, silakan menghubungi Sekretariat Program Studi S2 Teknik Elektro di Gedung Panehan lantai 1, ruang administrasi S2 TE.








